OPINI: Melampaui Batas saat Krisis, Belajar dari Sabastian Sawe

JAKARTA — Dalam beberapa waktu terakhir, pelaku bisnis di Indonesia merasakan kecemasan yang nyata. Rupiah sempat menyentuh area Rp17.385 per dolar AS, sementara analis pasar mencatat rupiah bergerak di kisaran Rp17.390–Rp17.400 per dolar AS dan memicu tekanan jual asing di pasar saham. Situasi ini mudah membuat energi organisasi menjadi negatif: biaya impor naik, bunga dan likuiditas menjadi perhatian, dan investor lebih berhati-hati. Namun gambaran Indonesia tidak sepenuhnya suram. Reuters mencatat surplus perdagangan Indonesia Maret 2026 mencapai US$3,32 miliar, lebih tinggi dari ekspektasi, sementara itu IMF masih memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia 2026 sekitar 5%. Artinya, di tengah tekanan global, Indonesia masih memiliki ruang daya tahan dan peluang. Krisis tidak harus selalu dibaca hanya sebagai tanda bahaya; ia harus kita baca sebagai arena pilihan strategis. Dalam situasi seperti ini, relevan mengingat ucapan John F. Kennedy (1959), ketika masih menjadi Senator Amer...